KEPRIMOBILE.COM – Angin yang tiba-tiba menguat, asap tebal yang menutup pandangan, hingga api yang melompat ke area lain menjadi tantangan yang harus dihadapi Ardinata Tarigan selama bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebagai anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) PT Arara Abadi di Perawang, Riau, Ardinata terbiasa menghadapi kondisi lapangan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Dalam situasi tertentu, ia bersama tim bahkan harus mundur dari lokasi kebakaran demi menjaga keselamatan.
“Kadang angin tiba-tiba kencang, kadang api melompat. Itu yang membuat tim harus mundur dan menunggu momen yang tepat untuk melakukan pemadaman,” tutur Ardinata.
Menurutnya, perubahan arah angin dapat membawa asap menuju posisi petugas sehingga pekerjaan tidak bisa dilanjutkan seperti biasa. Tim harus menunggu hingga kondisi memungkinkan untuk kembali mendekati titik api. Tidak jarang, pemadaman baru dapat diteruskan pada malam hari ketika angin cenderung lebih tenang.
Ardinata memulai karier sebagai anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi pada 2013 di Distrik Duri 3. Ketika TRC dibentuk pada 2018, ia mengikuti seleksi dan pelatihan hingga terpilih menjadi salah satu anggotanya.
Lebih dari satu dekade bekerja membuatnya memahami bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api. Petugas juga harus memperhatikan perubahan cuaca, membaca situasi, dan menentukan waktu yang tepat untuk kembali melakukan pemadaman.
Meski telah terbiasa menghadapi kondisi tersebut, Ardinata tidak menampik bahwa rasa takut tetap ada. Ia menyadari risiko pekerjaannya dan memahami bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil tindakan di lapangan.
Penugasan yang berlangsung selama beberapa hari juga menguras tenaga. Ketika kebakaran belum terkendali, petugas harus bertahan lebih lama dan menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi di lokasi. Keberhasilan mengendalikan api menjadi salah satu hal yang membuat rasa lelah terasa sepadan.
Namun, risiko pekerjaan tidak hanya dirasakan oleh petugas yang berada di lokasi kebakaran. Keluarga yang menunggu di rumah juga menghadapi kecemasan, terutama ketika komunikasi terputus.
Hal itu pernah dialami ibu Ardinata, Sontina br Munthe (57). Saat putranya menjalankan tugas bantuan pemadaman karhutla di Jambi, Sontina kehilangan kontak selama tiga minggu akibat keterbatasan sinyal telekomunikasi.
Biasanya, Ardinata menghubungi keluarga setidaknya sekali dalam seminggu. Ketika telepon dan pesan tidak lagi tersambung, Sontina berulang kali mencoba menghubungi putranya. Ia khawatir terjadi sesuatu karena mengetahui pekerjaan Ardinata memiliki risiko.
“Biasanya seminggu sekali sudah pasti menghubungi dan menanyakan kabar. Tapi waktu itu sampai tiga minggu tidak bisa dihubungi. Jadi perasaan takut dan khawatir. Anak ini ke mana, tidak ada kabar,” tutur Sontina.
Setelah berusaha mencari informasi, Sontina akhirnya berhasil menghubungi rekan kerja Ardinata. Dari sana, ia mengetahui bahwa putranya sedang menjalankan tugas di wilayah Jambi yang memiliki keterbatasan jaringan telekomunikasi.
Kabar tersebut membuat Sontina lega. Ia memahami bahwa pekerjaan anaknya menuntut kesiapan menghadapi situasi darurat, tetapi tetap berharap Ardinata tidak mengabaikan kesehatan dan keselamatannya.
Di sisi lain, Ardinata juga menyimpan kerinduan terhadap orang tua yang tinggal di kampung halaman di daerah Medan. Ketika mendapat kesempatan pulang, ia ingin memeluk orang tuanya dan menikmati masakan rumah.
Bagi Ardinata, menyelesaikan tugas pemadaman merupakan bagian dari tanggung jawab pekerjaan. Namun, keselamatan tetap menjadi hal utama agar ia dapat kembali kepada keluarga yang menunggu.
Sementara bagi Sontina, tidak ada harapan yang muluk-muluk. Ia hanya ingin putranya menjalankan pekerjaan dengan baik, menjaga diri selama bertugas, dan memberikan kabar begitu jaringan kembali tersedia. Sebab, di balik setiap penugasan yang harus diselesaikan, ada keluarga yang menanti kepulangannya dengan doa.***












