KepriMobile.com
No Result
View All Result
Thursday, October 1, 2026
  • Beranda
  • News
    • Seputar Kepri
    • Nasional
    • Internasional
  • Tekno
  • Otomotif
  • Headline News
  • ShowBiz
  • Lifestyle
  • Kuliner
KepriMobile.com
  • Beranda
  • News
    • Seputar Kepri
    • Nasional
    • Internasional
  • Tekno
  • Otomotif
  • Headline News
  • ShowBiz
  • Lifestyle
  • Kuliner
No Result
View All Result
KepriMobile.com
No Result
View All Result

Fosil di Sulawesi Bongkar Rahasia Manusia Purba Konsumsi Zat Psikoaktif 25.000 Tahun Lalu

by keprimobile
September 12, 2026
in Edukasi
0
Fosil di Sulawesi Bongkar Rahasia Manusia Purba Konsumsi Zat Psikoaktif 25.000 Tahun Lalu
152
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah penggunaan zat psikoaktif oleh manusia ternyata jauh lebih tua dari yang selama ini diketahui. Jejaknya ditemukan di Sulawesi melalui pemeriksaan sisa-sisa manusia purba yang diperkirakan hidup hingga sekitar 25.000 tahun lalu.

Temuan tersebut berasal dari penelitian tim arkeolog dan ilmuwan yang meneliti dua individu pemburu-peramu dari Sulawesi. Analisis terhadap gigi mereka menemukan pola kerusakan yang tidak biasa serta jejak senyawa arekolin, zat psikoaktif yang terdapat dalam biji pinang (Areca catechu).

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances ini menjadi salah satu bukti paling awal mengenai penggunaan rutin tanaman yang memiliki efek terhadap sistem saraf manusia.

Petunjuk utama penelitian berasal dari kondisi gigi kedua manusia purba tersebut.

Para peneliti menemukan alur dan keausan yang dalam pada permukaan gigi. Pola tersebut dinilai konsisten dengan kebiasaan mengulum atau mengunyah biji pinang secara berulang.

Temuan menjadi semakin kuat setelah analisis kimia mendeteksi keberadaan arekolin, senyawa neuroaktif yang secara alami terdapat pada pinang.

Dengan menggabungkan bukti kerusakan gigi dan temuan kimia tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat pemburu-peramu di Sulawesi kemungkinan telah mengonsumsi pinang secara rutin jauh sebelum manusia mengenal pertanian.

Salah satu individu yang diteliti diperkirakan hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Individu lainnya berasal dari periode yang lebih muda, sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.

Kedua temuan tersebut menunjukkan bahwa tradisi mengonsumsi pinang telah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.

Yang menarik, keduanya hidup sebelum berkembangnya pertanian di Sulawesi. Artinya, penggunaan tanaman dengan efek psikoaktif tidak harus menunggu munculnya masyarakat agraris.

Temuan dari Sulawesi bahkan mendorong mundur catatan arkeologis mengenai penggunaan zat psikoaktif manusia hingga ribuan tahun dibandingkan bukti sebelumnya.

Para peneliti menduga penggunaan pinang pada masa itu mungkin tidak semata-mata bertujuan mendapatkan efek psikoaktif.

Salah satu kemungkinan yang diajukan adalah penggunaannya untuk meredakan rasa sakit pada gigi. Pinang mengandung senyawa yang dapat memberikan efek tertentu pada sistem saraf, sehingga mungkin memberikan sensasi mati rasa atau perubahan persepsi rasa sakit.

Namun, kebiasaan tersebut ternyata memiliki konsekuensi terhadap kesehatan gigi.

Penggunaan pinang secara berulang dapat menyebabkan kerusakan gigi yang parah. Para peneliti bahkan mengajukan kemungkinan adanya semacam siklus: pinang digunakan untuk mengurangi rasa sakit, tetapi konsumsi terus-menerus justru dapat memperburuk kondisi gigi.

Temuan di Sulawesi menjadi penting karena bukti penggunaan zat psikoaktif oleh manusia sebelumnya diketahui berasal dari periode yang jauh lebih muda.

Salah satu contoh bukti penggunaan minuman beralkohol dari masa prasejarah diperkirakan berusia sekitar 13.000 tahun. Sementara itu, bukti penggunaan berbagai tanaman psikoaktif lainnya juga banyak ditemukan dalam konteks masyarakat yang sudah mengenal pertanian.

Temuan Sulawesi menunjukkan bahwa manusia pemburu-peramu pada Zaman Es sudah mengenal dan memanfaatkan tanaman yang memengaruhi sistem saraf.

Dengan demikian, hubungan manusia dengan tanaman psikoaktif ternyata memiliki akar sejarah yang sangat panjang.

Pinang bukan tanaman asing di kawasan Asia dan Pasifik. Praktik mengunyah atau mengonsumsi pinang masih ditemukan di berbagai wilayah hingga masa kini.

Biji dari pohon Areca catechu mengandung arekolin yang memiliki efek stimulan terhadap sistem saraf. Dalam praktik tradisional modern, pinang kerap dikombinasikan dengan bahan lain, meskipun konsumsi dalam jangka panjang dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan.

Kesamaan antara praktik masa kini dan bukti arkeologis tersebut memberikan gambaran mengenai panjangnya sejarah interaksi manusia dengan tanaman pinang.

Penemuan ini menambah daftar temuan penting dari Sulawesi dalam penelitian mengenai kehidupan manusia masa lalu.

Selain menyimpan bukti keberadaan manusia purba dan seni cadas yang sangat tua, wilayah tersebut kini memberikan petunjuk mengenai bagaimana manusia prasejarah memanfaatkan sumber daya tumbuhan di sekitarnya.

Jejak pada gigi yang semula tampak sebagai kerusakan ternyata membuka cerita yang lebih besar tentang kebiasaan, pengobatan, dan penggunaan tanaman yang memiliki efek psikoaktif.

Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perilaku manusia yang berkaitan dengan zat psikoaktif kemungkinan telah berkembang jauh sebelum munculnya peradaban, pertanian, maupun catatan sejarah tertulis.

Previous Post

Gempa Kepulauan Seribu M6,5 Terasa hingga Sumatra, Pakar Ungkap Mengapa Tak Merusak

Next Post

Antrean BBM Mengular, Pertamina Terapkan Sistem Ganjil-Genap di SPBU Sulsel

Next Post
Antrean BBM Mengular, Pertamina Terapkan Sistem Ganjil-Genap di SPBU Sulsel

Antrean BBM Mengular, Pertamina Terapkan Sistem Ganjil-Genap di SPBU Sulsel

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kenapa iPhone Harus Update iOS? Ini Alasannya

Kenapa iPhone Harus Update iOS? Ini Alasannya

August 21, 2025
Ubah Cara Pandang terhadap Jelantah, PDC Dorong Ekonomi Sirkular di Tiga Desa Rokan Hilir

Ubah Cara Pandang terhadap Jelantah, PDC Dorong Ekonomi Sirkular di Tiga Desa Rokan Hilir

July 31, 2026
Daun Bidara: Tanaman Herbal yang Kaya Antioksidan dan Antimikroba

Daun Bidara: Tanaman Herbal yang Kaya Antioksidan dan Antimikroba

November 28, 2025
HP Penuh Iklan? Ini Cara Mudah Mematikan Iklan di Samsung, Oppo, Xiaomi hingga Vivo

HP Penuh Iklan? Ini Cara Mudah Mematikan Iklan di Samsung, Oppo, Xiaomi hingga Vivo

February 8, 2026
Perluas Layanan Kepada Nasabah, BRK Syariah Resmikan 2 Kantor di Kabupaten Siak

Perluas Layanan Kepada Nasabah, BRK Syariah Resmikan 2 Kantor di Kabupaten Siak

0
Safari Ramadan Pemerintah Provinsi Riau Bersama BRK Syariah Serahkan Bantuan CSR Untuk Masjid Al Husni

Safari Ramadan Pemerintah Provinsi Riau Bersama BRK Syariah Serahkan Bantuan CSR Untuk Masjid Al Husni

0
Kunker ke Karimun, Direksi BRK Syariah Lanjutkan Safari Ramadan Bersama Pemprov Kepri dan Berikan Bantuan CSR

Kunker ke Karimun, Direksi BRK Syariah Lanjutkan Safari Ramadan Bersama Pemprov Kepri dan Berikan Bantuan CSR

0
Tsunami Terjang Jepang Imbas Gempa Dahsyat Taiwan, 3 Wilayah Kena

Tsunami Terjang Jepang Imbas Gempa Dahsyat Taiwan, 3 Wilayah Kena

0
PDC Tandai HUT ke-45 dengan Aksi Kemanusiaan, 100 Kantong Darah Terkumpul

PDC Tandai HUT ke-45 dengan Aksi Kemanusiaan, 100 Kantong Darah Terkumpul

October 1, 2026
SIAP Impact Forum 2026, BTN Dorong Kemandirian dan Kesiapan Generasi Muda

SIAP Impact Forum 2026, BTN Dorong Kemandirian dan Kesiapan Generasi Muda

September 29, 2026
Btn Housingpreneur Batch 3 Dorong Gen Z Hadirkan Inovasi untuk Masa Depan Sektor Perumahan

Btn Housingpreneur Batch 3 Dorong Gen Z Hadirkan Inovasi untuk Masa Depan Sektor Perumahan

September 28, 2026
BRK Syariah Perkuat Posisi BPD di Riau dan Kepri

BRK Syariah Perkuat Posisi BPD di Riau dan Kepri

September 28, 2026
KepriMobile.com

© 2026 KepriMobile.com.

  • Profil
  • Redaksi
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
    • Seputar Kepri
    • Nasional
    • Internasional
  • Tekno
  • Otomotif
  • Headline News
  • ShowBiz
  • Lifestyle
  • Kuliner

© 2026 KepriMobile.com.